27
Dec
11

“STRATA PINK BTS INDONESIA”

“STRATA PINK BTS INDONESIA”

Strategi Pemerataan Pengembangan Industri Kreatif

Berbasiskan Telekomunikasi Seluler di Indonesia*)

Oleh:

ANDI CHAIRIL FURQAN **)

 Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, salah satu yang menjadi perhatian adalah adanya penambahan fungsi pada dua kementerian yang menyebabkan nama kementeriannya pun berubah. Keduanya adalah Kementerian Pendidikan Nasional yang kini menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang berubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Keberadaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan suatu gebrakan yang fantastis, karena selain merupakan negara pertama yang memiliki kementerian ekonomi kreatif, disatukannya bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menyelaraskan perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia menuju pasar global, sehingga potensi pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia dapat dikenal oleh masyarakat dunia, dapat menjadi komoditas unggulan di tingkat global dan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Walaupun perkembangan indutri kreatif di Indonesia menunjukkan prestasi dan potensi yang menggembirakan, namun dalam kenyataannya, masih terdapat beberapa ketimpangan dalam perkembangannya yang bermuara pada permasalahan pemerataan pengembangannya. Untuk itu, agar ekonomi kreatif dapat memberikan kontribusi positif terhadap perekenomian Indonesia, maka diperlukan strategi jitu dalam melejitkan perkembangan industri kreatif secara merata, baik dari segi pemerataan pengembangan seluruh subsektor maupun pemerataan pengembangan industri kreatif di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan STrategi PemeRATAan Pengembangan INdustri Kreatif Berbasiskan Telekomunikasi Seluler di INDONESIA yang dapat diistilahkan dengan “STRATA PINK BTS INDONESIA”.

MENELISIK INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA

Masyarakat mengembangkan sistem ekonomi agar dapat mengatur keseimbangan antara sumber daya yang terbatas dengan kebutuhan yang tidak terbatas. Dengan kelangkaan sumber daya tersebut maka masyakarat diarahkan pada sistem ekonomi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: (a). Apa yang akan diproduksi? (b). Berapa jumlah yang akan diproduksi? (c). Bagaimana cara memproduksinya? dan (d). Siapa mendapat apa?.

Keberadaan industri kreatif merupakan suatu sektor usaha yang memberikan perhatian lebih terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu/kelompok untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu/kelompok, telah terbukti mampu menciptakan sistem ekonomi kreatif atau suatu sistem kegiatan manusia yang berkaitan dengan kreasi, produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa yang bernilai kultural, artistik, estetika, intelektual, dan emosional bagi para pelanggan di pasar. Hal ini membuktikan bahwa industri kreatif merupakan solusi dalam menyiasati kelangkaan sumber daya dengan mengembangkan industri alternatif yang berbasiskan sumber daya yang terbarukan.

Selain dapat mendukung pemanfaatan sumber daya yang terbarukan, pengembangan sektor industri kreatif ini juga telah dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Indonesia, dapat menciptakan iklim bisnis yang positif, dapat memperkuat citra dan identitas bangsa Indonesia, merupakan pusat penciptaan inovasi dan pembentukan kreativitas, serta memiliki dampak sosial yang positif. Kontribusi industri kreatif tersebut dapat terlihat dari hasil studi Departemen (Kementerian) Perdagangan Republik Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2009 terhadap kondisi industri kreatif antara tahun 2002-2008.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa dari segi Produk Domestik Bruto (PDB), dengan rata-rata pertumbuhan PDB antara tahun 2002-2008 yang sebesar 2,32%, Sektor industri kreatif dapat memberikan kontribusi pada PDB Nasional rata-rata sebesar 7,80% atau senilai Rp. 235.633 Miliar, lebih tinggi dari rata-rata kontribusi Sektor Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, Sektor Konstruksi dan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih. Sedangkan dari segi penyerapan tenaga kerja tahun 2002-2008, Sektor Industri Kreatif menduduki peringkat ke-5 di antara 10 sektor utama, dengan kontribusi sebanyak 7.391.642 tenaga kerja atau sekitar 7,74% dari total tenaga kerja nasional, masih memiliki posisi yang lebih baik dibandingkan penyerapan tenaga kerja sektor Pengangkutan dan Komunikasi, Sektor Konstruksi, Sektor Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan, Sektor Pertambangan dan Penggalian, dan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih. Walaupun rata-rata pertumbuhan penyerapan tenaga kerja Sektor Industri Kreatif tahun 2002-2008 merupakan yang terendah di antara 10 sektor utama, bahkan bernilai negatif atau sebesar -0,41%, namun dari segi rata-rata Produktivitas Tenaga Kerja, Sektor Industri Kreatif menduduki peringkat ke-7 di antara 10 sektor. Produktivitas tenaga kerja industri kreatif ini mencapai nilai Rp. 19.406.000,- per tahun, atau sekitar Rp.1.617.000,- per bulan, mengungguli rata-rata produktivitas tenaga kerja Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Jasa Kemasyarakatan, dan Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan.

Sementara itu, dari segi nilai ekspor dan impor, walaupun kontribusi ekspor industri kreatif memiliki kecenderungan semakin menurun dari tahun 2002-2008, yaitu dari 11,4% ekspor nasional pada tahun 2002 dan menurun hingga hanya mencapai 7,5% pada tahun 2008, kontribusi Net Trade atau Net Export yang dihasilkan Sektor Industri Kreatif menunjukkan kinerja yang sangat baik, yaitu berkisar 22-27% dari tahun 2002-2007 dan meningkat tajam di tahun 2008 menjadi 41,7%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan semakin meningkatnya Net Trade sektor industri kreatif maka semakin besar pula cadangan devisa negara yang dapat dihasilkan dari indutri kreatif, sehingga dapat berkontribusi positif pada perekonomian Indonesia. Kontribusi positif ini juga dapat terlihat pada jumlah usaha di sektor industri kreatif, walaupun menunjukkan fluktuasi yang cukup besar dari tahun 2002-2008 dan mengalami pertumbuhan sebesar -0,22%, namun dibandingkan dengan jumlah usaha di 10 sektor utama, rata-rata jumlah usaha Sektor Industri Kreatif tahun 2002-2007 berada pada peringkat 4, dengan kontribusi sebesar 6,7% dari total jumlah usaha di Indonesia, atau sekitar 2,8 juta usaha, melebihi kontribusi sektor industri pengolahan, sektor jasa kemasyarakatan, sektor konstruksi, sektor pertambangan dan penggalian, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan, dan sektor listrik, gas dan air bersih. Posisi ini tentunya menunjukkan bahwa Sektor Industri Kreatif merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian nasional.

Di indonesia, sampai pada tahun 2011, industri kreatif dikelompokkan ke dalam 14 subsektor, yaitu terdiri dari (1) Arsitektur; (2) Desain; (3) Fesyen; (4) Film, Video, dan Fotografi; (5) Kerajinan; (6) Layanan Komputer dan Piranti Lunak; (7) Musik; (8) Pasar dan Barang Seni; (9) Penerbitan dan Percetakan; (10) Periklanan; (11) Permainan Interaktif; (12) Riset & Pengembangan; (13) Seni Pertunjukan; dan (14) Televisi dan Radio. Dari 14 Subsektor Industri Kreatif yang telah dipetakan tersebut, subsektor yang memberikan kontribusi Nilai Tambah Bruto (NTB) terbesar sepanjang tahun 2002 sampai 2008 adalah Subsektor Fesyen dengan rata-rata NTB harga berlaku sebesar Rp. 107,8 triliun, atau sekitar 45,78% dari total NTB Sektor Industri Kreatif. Tujuh subsektor lain yang memberi kontribusi NTB diatas 1% berturut-turut adalah Subsektor Kerajinan 24,23%, Subsektor Desain 6,57%, Subsektor Periklanan 6,42%, Subsektor Penerbitan dan Percetakan 5,10%, Subsektor Musik 4,85%, Subsektor Arsitektur 2,44% dan Subsektor Televisi dan Radio 1,51%. Sedangkan Subsektor yang memberi kontribusi NTB dibawah 1% berturut-turut adalah Subsektor Layanan Komputer dan Piranti Lunak 0,95%, Subsektor Riset & Pengembangan 0,68%, Subsektor Film, Video, dan Fotografi 0,59%, Subsektor Pasar dan Barang Seni 0,50%, Subsektor Permainan Interaktif 0,28%, dan Subsektor Seni Pertunjukan 0,09%. Jika dilihat dari rata-rata pertumbuhan PDB Nasional tahun 2002-2008 yang sebesar 5,56% maka subsektor yang mengalami pertumbuhan PDB diatas rata-rata pertumbuhan PDB nasional tersebut adalah subsektor Layanan Komputer dan Piranti Lunak sebesar 16,87%, Subsektor Permainan Interaktif 13,88%, subsektor Musik 13,42%, Subsektor Periklanan 13,42%, Subsektor Seni Pertunjukan 7,67%, Subsektor Televisi dan Radio 7,57%, Subsektor Arsitektur 6,43%, Subsektor Riset dan Pengembangan 6,20%, dan Subsektor Penerbitan dan Percetakan 5,73%.

Sehubungan dengan penyerapan tenaga kerja masing-masing subsektor industri kreatif tahun 2002-2008, seperti halnya kontribusi masing-masing subsektor terhadap PDB, penyerapan tenaga kerja terbesar juga pada subsektor fesyen, subsektor kerajinan dan subsektor desain yaitu masing-masing dapat menyerap tenaga kerja rata-rata sebesar 4.028.588, 2.289.003 dan 424.512 tenaga kerja. Sedangkan yang terendah terserap di subsektor permainan kreatif, subsektor seni pertunjukan dan subsektor riset dan pengembangan, yaitu masing-masing 2.543, 8.446 dan 8.829 tenaga kerja. Kondisinya terbalik jika melihat penyerapan tenaga kerja, karena Subsektor Permainan interaktif, Subsektor Periklanan dan Subsektor Arsitektur mimiliki memiliki rata-rata pertumbuhan penyerapan tenaga kerja tahun 2002-2008 sebesar 14%, 9,38% dan 7,36%, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan penyerapan tenaga kerja Sektor Industri Kreatif sebesar -0,41% dan penyerapan tenaga kerja nasional sebesar 1,82%. Sedangkan sektor-sektor yang memiliki kecenderungan penurunan penyerapan tenaga kerja adalah Subsektor Fesyen, Subsektor Kerajinan, Subsektor Musik dan Subsektor Desain. Hal ini ditandai dengan rata-rata pertumbuhan tahun 2002-2008 yang bernilai negatif.

Sementara itu, berkaitan dengan nilai ekspor dan impor masing-masing subsektor indsutri kreatif tahun 2002-2008, menunjukkan bahwa subsektor industri kreatif yang selalu memiliki Net Trade positif sepanjang tahun 2002-2008, adalah Subsektor Kerajinan, Subsektor Musik, Subsektor Penerbitan dan Percetakan dan Subsektor Pasar Barang Seni, sedangkan subsektor yang selalu memiliki Net Trade negatif Subsektor Film, Video dan Fotografi, Subsektor Periklanan dan Subsektor Arsitektur. Begitupula jika dikaitkan dengan jumlah usaha masing-masing subsektor industi kreatif tahun 2002-2008, walaupun ada beberapa subsektor yang mengalami tren penurunan jumlah usaha, seperti Subsektor Film, Video dan Fotografi, namun Subsektor Arsitektur, Subsektor Musik, Subsektor Penerbitan dan Percetakan, Subsektor Piranti Lunak, Subsektor Periklanan, Subsektor Riset dan Pengembangan, Subsektor Permainan Interaktif dan Subsektor Televisi dan Radio menunjukkan trend peningkatan jumlah usaha. Indikasi ini tentunya cukup menggembirakan, terlebih lagi selama 2 tahun terakhir yaitu pada tahun 2007-2008, seluruh (14) subsektor industri kreatif mengalami peningkatan jumlah usaha. Inilah yang membuktikan bahwa akhir-akhir ini industri kreatif telah menjadi sektor usaha yang semakin menjanjikan dan menarik untuk digeluti oleh masyarakat Indonesia.

 

KETIMPANGAN PERKEMBANGAN INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA

Berdasarkan hasil studi Departemen (Kementerian) Perdagangan Republik Indonesia terhadap kondisi industri kreatif yang dilaksanakan pada tahun 2009 tersebut dan kondisi kekinian perkembangan industri kreatif di Indonesia maka disatu sisi dapat dikatakan bahwa sektor industri kreatif telah menunjukkan kontribusi yang positif terhadap perekonomian Indonesia dan merupakan suatu sektor usaha yang berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Namun, disisi lain jika mengamati prestasi dan potensi industri kreatif di indonesia saat ini, masih terdapat beberapa ketimpangan dalam perkembangannya, antara lain:

  1. Secara umum, pada tahun 2002-2008, rata-rata pertumbuhan PDB sektor industri kreatif dan rata-rata pertumbuhan jumlah usaha di Sektor Industri Kreatif masih dibawah rata-rata pertumbuhan PDB Nasional dan rata-rata pertumbuhan jumlah usaha nasional, begitupula rata-rata pertumbuhan penyerapan tenaga kerja, merupakan yang terendah di antara 10 sektor utama, sedangkan nilai ekspor sektor industri kreatif terus menurun hingga hanya mencapai 7,5% di tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan sektor industri kreatif masih lebih lambat dari kecepatan pertumbuhan usaha nasional.
  2. Secara parsial, kontribusi PDB, kontribusi jumlah usaha, kontribusi penyerapan tenaga kerja dan kontribusi ekspor masing-masing subsektor industri kreatif tahun 2002-2008 masih didominasi oleh subsektor Fesyen, subsektor kerajinan dan subsektor desain, sehingga walaupun subsektor industri kreatif lainnya mengalami pertumbuhan, belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan industri kreatif secara keseluruhan di Indonesia.
  3. Pengembangan industri kreatif masih terkonsentrasi pada daerah tertentu, seperti: DKI Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Solo, Surabaya, Makassar, Medan, Pontianak dan beberapa kota besar lainnya, sehingga keberadaan industri kreatif pada kabupaten/kota lainnya belum dapat dikembangkan secara optimal.
  4. Perhatian media nasional melalui pemberitaan/artikel di situs internet mengenai industri kreatif belum marak dipublikasikan, sampai pada bulan Juni 2009, tercatat hanya situs kompas.com yang memiliki artikel diatas 1.000 atau sebanyak 1.360, sedangkan media nasional lainnya hanya memiliki artikel dibawah 250. Dari artikel-artikel tersebut, hanya tiga subsektor industri kreatif yang sering diangkat menjadi topik dalam media nasional tersebut, yaitu subesktor film, video dan fotografi, subsektor musik dan subsektor layanan komputer dan piranti lunak, sehingga perkembangan subsektor lainnya belum terpublikasikan secara merata di masyarakat.
  5. Perhatian pemerintah, masyarakat dan media di daerah terhadap perkembangan industri kreatif juga masih sangat minim. Belum semua Pemerintah Daerah memiliki masterplan atau cetak biru pengembangan industri kreatif. Hal ini juga terlihat dari pemberitaan di media daerah (yang memiliki situs internet), sampai pada bulan Juni 2009, walaupun hanya memuat 17 artikel, media di daerah solo tercatat mempublikasikan artikel terbanyak, sementara subsektor yang sering diangkat menjadi topik di media daerah hanya seputar subesktor film, video dan fotografi, subsektor musik dan subsektor fesyen, sehingga dengan masih minimnya perhatian pemerintah dan masyarakat daerah terhadap industri kreatif di daerah maka mengakibatkan perkembangan industri kreatif di beberapa daerah berjalan lambat.
  6. Walaupun beberapa subsektor industri kreatif intangible atau yang berbasis digital, seni, budaya, media dan teknologi, seperti: Subsektor Musik; Film, Video dan Fotografi; Layanan Komputer dan Piranti Lunak; Periklanan; Arsitektur; Televisi dan Radio; Seni Pertunjukkan; Riset dan Pengembangan; dan Permainan Interaktif  telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, namun belum memiliki dokumentasi yang cukup baik, sehingga kontribusi dan perkembangannya, khususnya di daerah-daerah belum dapat terpantau secara maksimal.
  7. E-commerce sebagai pintu memasuki pasar global belum sepenuhnya dimanfaatkan dan termanfaatkan oleh pelaku industri kreatif dan masyarakat sebagai pelanggan. Sejauh ini belum banyak pelaku kreatif yang menjalankan E-Commerce secara lengkap. Beberapa para pelaku kreatif hanya memiliki halaman situs internet perusahaannya, yang hanya berfungsi memperkenalkan produk atau promosi produk, tanpa adanya transaksi online, sehingga media internet belum termanfaatkan secara optimal oleh pelaku indsutri kreatif sebagai media penciptaan inovasi, publikasi, promosi dan penjualan produk-produk industri kreatif.

Atas beberapa kondisi “ketimpangan” tersebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia adalah pemerataan pengembangannya. Belum seluruh potensi yang ada pada masing-masing subsektor industri kreatif dan yang terdapat di daerah-daerah dikembangkan secara merata, yang mana hal ini salah satunya diakibatkan karena perkembangan teknologi informasi belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku industri kreatif, pemerintah, media dan masyarakat.

MAU DIBAWA KEMANA INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA?

Pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2025 diarahkan pada pencapaian visi “Bangsa Indonesia yang berkualitas hidup dan bercitra kreatif di mata dunia“, dengan misi “Memberdayakan Sumber Daya Insani Indonesia Sebagai Modal Utama Pembangunan Nasional” untuk: (1). Peningkatan kontribusi industri kreatif terhadap pendapatan domestik bruto Indonesia; (2). Peningkatan ekspor nasional dari produk/jasa berbasis kreativitas anak bangsa yang mengusung muatan lokal dengan semangat kontemporer; (3). Peningkatan penyerapan tenaga kerja sebagai dampak terbukanya lapangan kerja baru di industri kreatif; (4). Peningkatan jumlah perusahaan berdaya saing tinggi yang bergerak di industri kreatif; (5). Pengutamaan pada pemanfaatan pada sumber daya yang berkelanjutan bagi bumi & generasi yang akan datang; (6). Penciptaan nilai ekonomis dari inovasi kreatif, termasuk yang berlandaskan kearifan dan warisan budaya nusantara; (7). Penumbuhkembangan kawasan-kawasan kreatif di wilayah Indonesia yang potensial; (8). Penguatan citra kreatif pada produk/jasa sebagai upaya pencitraan negara (national branding) Indonesia di mata dunia Internasional.

Dalam rangka pencapaian visi dan misi tersebut, atas pertimbangan sinkronisasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan pertimbangan karakteristik Industri Kreatif Indonesia, pengembangan industri kreatif di Indonesia dibagi menjadi 2 tahap utama, yaitu: tahap penguatan (2008-2014); dan tahap akselerasi (2015-2025). Beberapa indikator yang digunakan atas pencapaian visi dan misi ekonomi kreatif pada tahap akselerasi (2025) adalah (1). Kontribusi industri kreatif terhadap PDB mencapai mencapai 9-11% dari PDB riil nasional; (2). Kontribusi ekspor industri kreatif mencapai 12-13% dari ekspor nasional, dengan nilai nominal sekitar Rp. 500 triliun; (3). Kontribusi penyerapan tenaga kerja industri kreatif terhadap tenaga kerja nasional pada tahun 2025 ditargetkan mencapai 9-11%, dengan jumlah pekerja sekitar 12,3 juta; (4). Pertumbuhan paten, hak cipta, merek, desain industri, yaitu masing-masing sebesar 4%, 38,94%, 6% dan 39,7%; (5). Menumbuhkembangan 10 kawasan kreatif potensial di wilayah Indonesia; (6). Terdapat tambahan 525 merek lokal yang terpercaya dan telah secara legal terdaftar di Dirjen HKI Indonesia dan juga di kantor paten negara tujuan ekspor.

Mengingat perkembangan industri kreatif di Indonesia yang masih mengalami “ketimpangan”, upaya pencapaian indikator-indikator di tahun 2025 tersebut bukanlah perkara mudah dan sekedar “membalikkan telapak tangan”, namun dibutuhkan komitmen dan sinergi dari semua pihak yang terkait dan “lompatan-lompatan” dalam melejitkan perkembangan industri kreatif di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan “strategi jitu” dalam mengembangkan industri kreatif di Indonesia, yang harus diawali dengan dilakukannya pemerataan pengembangan industri kreatif.

PEMERATAAN SEBAGAI PONDASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF

Istilah pemerataan bukanlah hal baru di telinga masyarakat Indonesia, sejak reformasi digulirkan pada penguhujung tahun 1997, pemerataan merupakan “jargon” yang banyak laku dipasaran dan dijadikan komoditas politik oleh pihak-pihak tertentu. Peralihan sistem pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi merupakan salah satu wujud dari upaya pemerataan yang direalisasikan oleh Bangsa Indonesia, begitupula dengan euforia pemekaran daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, juga mengusung “pemerataan pembangunan” sebagai dalil dalam memperjuangkannya, sehingga tidak mengherankan jika saat ini pemerataan merupakan hal yang mendasar dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur di Indonesia. Berkaitan hal tersebut, dengan belajar dari ketimpangan yang terjadi dalam perkembangan industri kreatif di Indonesia saat ini, membutuhkan pemerataan dalam pengembangannya, namun pemerataan pengembangan industri kreatif di Indonesia tidak hanya terbatas pada pemerataan pengembangan untuk seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga menyangkut pemerataan pengembangan seluruh subsektor industri kreatif, karena dengan dilakukannya pemerataan tersebut, selain dapat mengembangkan seluruh potensi-potensi industri kreatif di seluruh wilayah NKRI, juga dapat menjaga kestabilan kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian nasional.

Upaya pengembangan industri kreatif tidak terlepas dari model pengembangan ekonomi kreatif. Setidaknya terdapat 5 (lima) pilar dalam model pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia, yaitu:

  1. Industry. Industri merupakan bagian dari kegiatan masyarakat yang terkait dengan produksi, distribusi, pertukaran serta konsumsi produk atau jasa dari sebuah negara atau area tertentu. Industri yang menjadi perhatian dalam pilar ini khususnya adalah industri kreatif atau aktivitas para pelaku industri kreatif.
  2. Technology. Teknologi dapat didefinisikan sebagai suatu entitas balk material dan non material, yang merupakan aplikasi penciptaan dari proses mental atau fisik untuk mencapai nilai tertentu. Dengan kata lain, teknologi bukan hanya mesin ataupun alat bantu yang sifatnya berwujud, tetapi teknologi ini termasuk kumpulan teknik atau metode-metode, atau aktivitas yang membentuk dan mengubah budaya. Teknologi ini akan merupakan enabler untuk mewujudkan kreativitas individu dalam karya nyata.
  3. Resources. Sumber daya yang dimaksudkan disini adalah input yang dibutuhkan dalam proses penciptaan nilai tambah, selain ide atau kreativitas yang dimiliki oleh sumber daya insani yang merupakan landasan dari industri kreatif ini. Sumber daya meliputi sumber daya alam, material maupun ketersediaan lahan yang menjadi input penunjang dalam industri kreatif.
  4. Institution. Institution dalam pilar pengembangan industri kreatif dapat didefinisikan sebagai tatanan sosial dimana termasuk di dalamnya adalah kebiasaan, norma, adat, aturan, serta hukum yang berlaku. Tatanan sosial ini bisa bersifat informal, seperti sistem nilai, adat istiadat, atau norma, maupun bersifat formal dalam bentuk peraturan perundang-undangan.
  5. Financial Intermediary. Lembaga intermediasi keuangan adalah lembaga yang beperan menyalurkan pendanaan kepada pelaku industri yang membutuhkan, balk dalam bentuk modal/ekuitas mapun pinjaman/kredit. Lembaga intermediasi keuangan merupakan salah satu elemen penting untuk untuk menjembatani kebutuhan keuangan bagi pelaku dalam industri kreatif.

Kelima pilar diatas saling terkait satu sama lain dalam menciptakan bangunan industri kreatif yang kokoh. Sementara itu, bangunan industri kreatif sangat ditentukan oleh hubungan antara Cendekiawan (Intellectuals), Bisnis (Business) dan pemerintah (Government) yang disebut sebagai sistem ‘triple helix’ yang merupakan aktor utama penggerak lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan teknologi yang vital bagi tumbuhnya industri kreatif. Hubungan yang erat, saling menunjang dan bersimbiosis mutualisme antara ke-3 aktor tersebut dalam kaitannya dengan landasan dan pilar-pilar model industri kreatif akan menghasilkan industri kreatif yang berdiri kokoh dan berkesinambungan. Pemerintah sebagai organisasi yang memiliki otoritas untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang­-undang di wilayah tertentu diharapkan dapat menjadi penggerak pengembangan industri kreatif di Indonesia.

Untuk itu, berdasarkan 5 pilar pengembangan industri kreatif diatas dan seiring dengan upaya pencapaian visi dan misi ekonomi kreatif tahun 2025 maka strategi pemerataan pengembangan industri kreatif di Indonesia yang perlu dilakukan oleh pemerintah dibagi kedalam dua strategi utama, yaitu:

1. Pemerataan pengembangan industri kreatif di seluruh wilayah NKRI.

Industri kreatif adalah penghasil creative capital, dengan mengembangkan industri kreatif di Indonesia maka industri-industri lokal bisa mengurangi ketergantungannya terhadap industri atau produk asing. Apalagi jika keberadaan industri kreatif dikaitkan dengan keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), upaya pengembangan industri kreatif dengan sendirinya dapat menciptakan UMKM yang handal dan berdaya saing global, memperluas lapangan kerja, memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Selain itu, kontribusi industri kreatif tidak hanya ditinjau dari sudut pandang ekonomi semata, tetapi juga dapat memberikan dampak positif kepada aspek lainnya, seperti peningkatan citra dan identitas bangsa, menumbuhkan inovasi dan kreativitas anak bangsa, merupakan industri yang menggunakan sumber daya yang terbarukan, serta kualitas hidup dan toleransi sosial masyarakat.

Walaupun salah satu misi ekonomi kreatif adalah penumbuhkembangan kawasan-kawasan kreatif di wilayah Indonesia yang potensial, namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk menumbuhkembangkan industri kreatif di seluruh wilayah NKRI, mengingat setiap wilayah memiliki sumber daya alam dan adat-istiadat berbeda, yang kesemuanya berpotensi untuk dikembangkannya industri kreatif, sehingga dengan adanya pengembangan industri kreatif di suatu daerah maka akan memberikan multiplier effect terhadap perekonomian, kondisi sosial dan pembangunan di daerah-daerah tersebut.

Untuk itu, agar pengembangan industri kreatif di Indonesia dapat bersinergi dengan program pemerataan pembangunan maka pemerintah harus mengupayakan terselenggaranya pengembangan industri kreatif secara merata di seluruh wilayah NKRI. Setiap Pemerintah Daerah diupayakan untuk memiliki masterplan atau program pengembangan industi kreatif berdasarkan pada kondisi dan potensi di daerah masing-masing, serta ditetapkan dengan regulasi setingkat Peraturan Daerah (PERDA) ataupun Peraturan Bupati (PERBUP) yang didalamnya mengatur tentang strategi, pihak-pihak terkait dan fasilitas dalam pengembangan industri kreatif di masing-masing daerah tersebut, termasuk memberikan perhatian terhadap gerakan komunitas kreatif.

2. Pemerataan pengembangan industri kreatif pada seluruh subsektor industri kreatif.

Industri kreatif memiliki subsektor yang banyak. Ada yang kreasinya berbentuk produk fisik (tangible), ada pula yang kreasinya berupa produk non-fisik (intangible). Dibalik itu, pondasi industri kreatif adalah sumber daya manusia (People). Keunikan industri kreatif yang menjadi ciri bagi hampir seluruh sektor industri yang terdapat dalam industri kreatif adalah peran sentral sumber daya manusia sebagai modal insani dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya. Untuk itu, pembangunan industri kreatif Indonesia yang kompetitif harus dilandasi oleh pembangunan SDM yang terampil, terlatih dan terberdayakan untuk menumbuhkembangkan pengetahuan dan kreativitas, sehingga dapat menciptakan insan kreatif dan inovatif yang dapat memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien.

Kondisi ini mengisyaratkan bahwa seluruh subsektor industri kreatif dapat dikembangkan secara merata di Indonesia, mengingat ketersediaan SDM yang mencapai 259.940.857 jiwa terhitung 31 Desember 2010. Jumlah ini sangat berpotensi untuk diarahkan pada pengusaan pengetahuan dan keterampilan seluruh subsektor industri kreatif yang ada di Indonesia. Apalagi data menunjukkan bahwa pelaku industri kreatif saat ini lebih banyak didominasi dan diminati oleh orang-orang muda atau usia produktif yang masih mudah diarahkan untuk menguasai subsektor tertentu, sehingga menunjang dilaksanakannya pemerataan pengembangan seluruh subsektor industri kreatif.

Urgensi pemerataan pengembangan seluruh subsektor industri kreatif juga dilatarbelakangi oleh kondisi perkembangan indutri kreatif yang masih menunjukkan ketimpangan, yaitu masih didominasi oleh subsektor fesyen, subsektor kerajinan dan subsektor desain. Sementara pertumbuhan ketiga subsektor tersebut sudah mulai stagnan atau cenderung menurun. Hal ini merupakan indikasi peringatan bagi pengembangan industri kreatif nasional, bahwa ke depan industri kreatif jangan lagi hanya mengandalkan ketiga Subsektor tersebut. Subsektor lainnya juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena telah menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang positif dan semakin meningkat dari tahun 2002-2008.

Untuk itu, agar upaya pemerataan pengembangan seluruh subsektor industri kreatif ini dapat disinergikan dengan program pemerataan pengembangan industri kreatif diseluruh wilayah NKRI maka strategi yang dapat dijalankan oleh pemerintah adalah memasukkan pelajaran ekonomi kreatif ke dalam kurikulum setiap jenjang pendidikan serta mengupayakan agar setiap Pemerintah Daerah mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan memberikan fasilitas didirikannya perguruan tinggi atau lembaga pendidikan (kursus) yang memiliki jurusan/program studi berkaitan dengan subsektor industri kreatif tertentu, dengan tetap menjaga pemerataan penyelenggaraan pendidikan subsektor industri kreatif tersebut secara keseluruhan. Selain dalam bidang pendidikan, baik pemerintah pusat (kementerian terkait) maupun pemerintah daerah perlu memberikan perhatian, apresiasi serta fasilitas yang merata atas pengembangan seluruh subsektor industri kreatif, termasuk subsektor kuliner yang rencananya akan dimasukkan ke dalam subsektor ke 15 industri kreatif di Indonesia pada tahun 2012 nanti.

Berawal dari strategi pemerataan pengembangan industri kreatif tersebut maka diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya insani sebagai pelaku utama industri kreatif, menciptakan iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan bisnis industri kreatif, menjamin adanya penghargaan/apresiasi terhadap insan kreatif dan karya kreatif yang dihasilkan, serta menumbuhkan kepercayaan lembaga keuangan dalam mendukung pendanaan seluruh subsektor industri kreatif di seluruh wilayah NKRI.

PERAN TELEKOMUNIKASI SELULER DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF

Globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Konsekuensi yang harus diterima jika masuk di dalamnya adalah harus siap berkompetisi dengan pesaing. Pada tingkat bisnis, untuk dapat memenangkan persaingan, pebisnis harus mengubah cara pandang berkompetisi karena perubahan yang cepat telah menjadi ciri utama lingkungan bisnis global saat ini. Tekanan untuk berubah datang dari berbagai penjuru, selain dari suasana kompetitif persaingan global, tuntutan perubahan juga datang dari kelompok stakeholder. Dunia bisnis telah terikat dalam perjanjian dan transaksi yang lebih kompleks dan tanpa batas, setiap organisasi bisnis menonjolkan keunggulannya masing-masing, manajemen resiko lebih sering diperbincangkan dan tindakan legal pun menjadi sesuatu yang mulai banyak dipertimbangkan dalam masyarakat (pelanggan). Prahald (1997) seperti yang dikutip oleh Widoatmodjo (2005) mengemukakan delapan perubahan cara pandang yang diperlukan untuk bisa berkompetisi, yaitu (1). Dari kondisi yang nyaman menjadi kondisi yang ketat; (2). Dari lokal menjadi global; (3). Dari diikuti menjadi mengikuti; (4). Dari batasan industri yang jelas menjadi tidak jelas; (5). Dari stabil menjadi tidak stabil; (6). Dari tidak langsung menjadi langsung; (7). Dari integrasi vertikal menjadi spesialis; (8). Dari berpengetahuan tunggal menjadi jamak. Itulah yang semestinya harus dilakukan oleh para pelaku industri kreatif.

Selain itu, tuntutan perubahan juga datang dari kemajuan pesat teknologi informasi. Teknologi Informasi itu sendiri merupakan suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi informasi menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Dengan teknologi informasi, telah menciptakan pola kerja, pola produksi dan pola distribusi yang lebih murah dan lebih efisien. Penemuan baru di bidang teknologi informasi komunikasi seperti internet, email, Short Message Service (SMS), Global System for Mobile (GSM) telah menciptakan interkoneksi antar manusia yang menuntut manusia menjadi semakin produktif, kreatif dan inovatif, sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi informasi akan berkontribusi positif terhadap perkembangan industri kreatif jika dimanfaatkan secara optimal.

Di indonesia, kemajuan pesat teknologi informasi ditandai dengan evolusi yang begitu cepat pada industri telekomunikasi seluler sejak tahun 1984. Pada tahun itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling awal mengadopsi teknologi seluler versi komersial, dimulai Nordic Mobile Telephone (NMT), lalu Advance Mobile Phone Sistem (AMPS), yang keduanya menandai pemanfaatan teknologi seluler generasi pertama (1G) di Indonesia, kemudian pada tahun 1995 diluncurkan teknologi generasi pertama Code Division Multiple Access (CDMA) yang disebut Extended Time Division Multiple Access  (ETDMA). Pada dekade yang sama, diperkenalkan pula teknologi Global System for Mobile (GSM) yang membawa teknologi telekomunikasi seluler di Indonesia ke era generasi kedua (2G). Pada masa ini, layanan pesan singkat atau short message service (SMS) menjadi fenomenal di kalangan pengguna ponsel berkat sifatnya yang hemat dan praktis, termasuk mulai digunakannya teknologi General Packet Radio Service (GPRS), dengan kemampuannya melakukan transaksi paket data. Teknologi ini kerap disebut dengan generasi dua setengah (2,5G), yang kemudian disempurnakan oleh Enhanced Data Rates for GSM Environment (EDGE), yang biasa disebut dengan generasi dua koma tujuh lima (2,75G).

Pada tahun 2001, di Indonesia telah dikenal teknologi CDMA generasi kedua (2G), yang kemudian pada 2004 mulai muncul operator 3G pertama, yang mana tidak lama berselang setelah itu, teknologi layanan telekomunikasi seluler di Indonesia telah mencapai generasi ketiga-setengah (3,5G), ditandai dengan berkembangnya teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) yang mampu memungkinkan transfer data secepat 3,6 Mbps. Sedangkan teknologi 4G mulai diperkenalkan sejak tahun 2008, yang dimulai dengan dikembangkannya Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) oleh pemerintah. WiMAX sendiri adalah teknologi telekomunikasi terbaru yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan koneksi internet berkualitas dan melakukan aktivitas dan teknologi nirkabel telekomunikasi berbasis protokol internet yang berjalan pada frekuensi 2,3 GHz. Seiring dengan perkembangan industri telekomunikasi seluler di Indonesia tersebut maka dimulai tahun 2010 layanan data-base, seperti internet dan berbagai aplikasi lainnya telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan baru dalam dunia telekomunikasi seluler, operator kini tengah berlomba-lomba untuk mempromosikan layanan data-base secara komersial dan mengelola jaringan sehingga dapat memenuhi kebutuhan terhadap kapasitas akses yang tinggi dan mampu menjadi model bisnis yang menguntungkan.

Kondisi ini tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi pemerintah dalam mewujudkan pengembangan industri kreatif yang merata di Indonesia, karena untuk mengefektifkan upaya pemerataan pengembangan industri kreatif di Indonesia, tidak dapat dihindari lagi bahwa pemerintah harus memanfaatkan perkembangan telekomunikasi seluler, khususnya layanan data-base yang saat ini tengah dikembangkan oleh seluruh operator telekomunikasi seluler, minimal agar seluruh subsektor industri kreatif dapat memanfaatkan teknologi informasi sebagai teknologi pendukung dalam proses kreasi (desain produk), produksi, distribusi, pemasaran dan administrasi. Pada rantai kreasi dan produksi, teknologi informasi dibutuhkan untuk memperoleh, menyebarkan, dan melakukan pertukaran informasi, untuk memperkaya ide kreasi. Sedangkan pada rantai distribusi dan komersialisasi, dukungan teknologi informasi dibutuhkan untuk mengefisienkan distribusi, promosi dan transaksi penjualan produk kreatif. Dalam hal ini, untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan industri kreatif maka pemerintah perlu menerapkan beberapa strategi sebagai berikut:

  1. Pemerataan layanan telekomunikasi di seluruh wilayah NKRI, dengan cara mengefektifkan pemberian lisensi modern kepada operator. Pemberian lisensi modern harus diseleksi dan diawasi secara ketat, agar tetap menjaga komitmen dan konsistensi peran operator dalam pembangunan ekonomi bangsa, menumbuhkan lapangan kerja dan mendukung kompetisi yang sehat bagi operator di semua daerah secara nasional, sehingga dapat memenuhi kebutuhan komunikasi hingga ke pelosok desa, termasuk kebutuhan komunikasi bagi para pelaku industi kreatif di seluruh wilayah NKRI.
  2. Meningkatkan keefektifan penyelenggaraan e-government di pemerintahan, khususnya pengoptimalan keberadaan website pemerintah daerah atau sebuah portal yang dikelola oleh pemerintah daerah, dibuat terintegrasi dengan portal industri kreatif lainnya (gerakan komunitas atau para pelaku industri kreatif) dalam rangka memberikan layanan informasi tentang keberadaan industri kreatif, memfasilitasi interaksi antara pemerintah daerah dengan para pelaku industri kreatif, pemasok, investor, kreditor dan pelanggan, serta memfasilitasi diselenggarakannya transaksi antara para pelaku industri kreatif dengan pihak stakeholder industri kreatif, terutama pelanggan.
  3. Penyediaan layanan database yang dapat menyimpan berbagai dokumen elektronik tentang industri kreatif, baik yang berkaitan dengan produk, maupun transaksi-transaksi industri kreatif lainnya, seperti: data pekerja, data penjualan, dan data keuangan lainnya, dengan cara menciptakan suatu mekanisme sistem pengiriman data secara online dari para pelaku industri kreatif ke pusat database, baik menggunakan internet maupun SMS, sehingga setiap saat dapat terupdate, dapat menjadi arsip publik, dan juga dapat diakses oleh pihak-pihak yang membutuhkan (stakeholder).
  4. Mendorong para pelaku industri kreatif maupun penyelenggara pendidikan industri kreatif untuk “melek” teknologi informasi, sehingga memiliki, menguasai ataupun menggunakan teknologi pengolahan dan penyebaran data menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), komputer, alat komunikasi, dan elektronik digital. Hal ini diperlukan untuk mendukung keefektifan portal industri kreatif dan ketersediaan database industri kreatif.
  5. Memfasilitasi terciptanya hubungan dan komunikasi antara para pelaku industri kreatif dengan lembaga keuangan atau akses-akses finansial lainnya, dengan cara menciptakan suatu skema pembiayaan yang saling menguntungkan, terutama agar lembaga keuangan dapat memahami dan memberikan dukungan kepada subsektor industri kreatif yang kreasinya berupa produk non-fisik (intangible).
  6. Pemberian insentif/fasilitas memadai bagi para pelaku industri kreatif, khususnya tergolong UMKM, terutama bagi UMKM industri kreatif yang dapat memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dan efisien serta senantiasa mengupdate data-data aktivitasnya pada layanan database yang telah disediakan oleh pemerintah. Hal ini diperlukan agar memberikan motivasi kepada para pelaku industri kreatif skala UMKM untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dalam mengefektifkan dan mengefisienkan usahanya, baik untuk keperluan proses kreasi (desain produk), produksi, distribusi, pemasaran maupun administrasi.

Untuk menerapkan strategi-strategi diatas, Pemerintah tentunya tidak dapat berjalan sendiri, diperlukan peran serta aktif atau kerjasama yang saling menguntungkan dengan penyelenggara (operator) telekomunikasi seluler yang ada di Indonesia, yang mana dengan kolaborasi antara pemerintah dan operator telekomunikasi seluler tersebut maka diharapkan strategi pemerataan pengembangan industri kreatif yang berbasiskan telekomunikasi seluler di Indonesia atau “STRATA PINK BTS INDONESIA” dapat diwujudkan, sehingga selain dapat menunjang tercapainya visi misi ekonomi kreatif Indonesia pada tahun 2025, industri kreatif di Indonesia juga dapat menjadi salah satu sektor yang telah siap menghadapi era ekonomi digital yang akan dimulai pada tahun 2015 nanti.

SELESAI***)

*)    Tulisan ini diikutsertakan pada lomba karya tulis XL Award 2011, dengan tema plihan “Pengaruh perkembangan telekomunikasi seluler dan perkembangan industri kreatif di Indonesia”.

**)   Penulis adalah Staf Pengajar Pada Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako (Kategori Umum).

DAFTAR REFERENSI

Agus wibisono. (2010).  Industri Kreatif. http://aguswibisono.com/2010/industri-kreatif-indonesia/

Algooth Putranto. (2011). Tuntutan pemerataan telekomunikasi http://aergot. wordpress.com/2011/08/04/tuntutan-pemerataan-telekomunikasi/

Alma, Buchari. (2006). Pengantar Bisnis, Edisi Revisi. Alfabeta. Bandung.

Arief Rahmana. (2009). Peranan Teknologi Informasi Dalam Peningkatan Daya Saing Usaha Kecil Menengah. Makalah Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009). ISSN: 1907-5022. Yogyakarta, 20 Juni 2009.

Bisnis Indonesia. (2011). Kuliner Masuk Industri Kreatif. http://www.bisnis.com/ articles/kuliner-masuk-industri-kreatif

Diaz Rossano. (2003). Penerapan e-Government dalam Pemasaran Wilayah Studi Kasus Pemasaran Wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

I Putu Agus Swastika. (……). Ada Apa dengan e-Government? http://www.denpasarkota.go.id/main.php?act=i_opi&xid=12

Kelompok Kerja Indonesia Design Power – Departemen Perdagangan. (2008). Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 – Rencana  Pengembangan Ekonomi Kreatif 2009-2015. Departemen Perdagangan Republik Indonesia.

Kelompok Kerja Indonesia Design Power – Departemen Perdagangan. (2009). Studi Industri Kreatif 2009 – Update . Departemen Perdagangan Republik Indonesia.

Kompas. (2011). Jumlah Penduduk Indonesia 259 Jutahttp://nasional.kompas.com/ read/2011/09/19/10594911/Jumlah.Penduduk.Indonesia.259.Juta

Tim ICT Pura. (2011). Profil dan Panduan Pelaksanaan ICT Pura – Gerakan Pemetaan. Penghitungan Indeks, dan Penghargaan Terhadap Kota/Kabupaten Digital di Republik Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Vivanews. (2011). Tahun 2012, Indonesia Connected Dicanangkan. http://teknologi. vivanews.com/news/read/269728-tahun-2012–indonesia-connected-dicanangkan

_________. (2011). Fokus Operator Bergeser ke Layanan Data. http://teknologi. vivanews.com/news/read/213848-pemasaran-operator-bergeser-ke-tarif-data

Widoatmodjo, Sawidji. (2005). New Business Model; Strategi Ampuh Memenangi Bisnis di Abad ke-21, Bagaimana Perusahaan Lama Bertahan dan Bagaimana Perusahaan Baru Masuk. PT. Gramedia. Jakarta.

Wikipedia. (….). Telekomunikasi seluler di Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/ Telekomunikasi_seluler_di_Indonesia


3 Responses to ““STRATA PINK BTS INDONESIA””


  1. December 28, 2011 at 12:44 pm

    Meski belum baca scr all, ini karya tulis mantap banged Bang Andi…
    Panjang dan bernas!
    Insya Allah layak menang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


December 2011
M T W T F S S
« Oct   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: