12
Mar
12

Efektifitas Aktivitas CSR Tergantung Orientasinya

Sekedar mengingatkan kembali bahwa pada tahun 2011 silam, tepatnya sekitar bulan oktober 2011, Pemerintah Kota Palu, pernah berencana membentuk forum CSR (Corporate Social Responsibility) untuk melibatkan dunia usaha dalam mendukung pembiayaan program-program penanggulangan kemiskinan di daerah Kota Palu. Walaupun pada saat itu telah dibentuk tim untuk melakukan persiapan pembentukan forum CSR tersebut, namun sampai sekarang realisasi dari rencana tersebut hampir tidak terdengar ataupun belum terpublikasikan secara menyeluruh kepada masyarakat. Terlepas dari persoalan terealisasi atau tidaknya rencana Pemerintah Kota Palu tersebut, opini ini bertujuan untuk mengungkapkan beberapa orientasi perusahaan melakukan aktivitas CSR dan dampak orientasi tersebut terhadap efektifitas penyelenggaraan aktivitas CSR bagi masyarakat pada umumnya dan perusahaan pada khususnya.

Prinsip ekonomi yang menyatakan “pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya” nampaknya kurang relevan lagi untuk dianut di era globalisasi seperti sekarang ini, karena globalisasi merupakan suatu keniscayaan. Pilihannya hanya dua: ikut atau tidak? Kalau memutuskan tidak ikut globalisasi, maka harus siap dengan hidup subsisten. Tetapi kalau memutuskan untuk ikut globalisasi, harus siap menghadapi pesaing, dalam hal ini harus siap berkompetisi, yang mana untuk berkompetisi memerlukan dukungan investasi (modal) yang tidak sedikit jumlahnya.
Pada tingkat bisnis, untuk dapat memenangkan persaingan di era globalisasi ini, pebisnis harus mengubah cara pandang berkompetisi, yaitu (1). Dari kondisi yang nyaman menjadi kondisi yang ketat; (2). Dari lokal menjadi global; (3). Dari diikuti menjadi mengikuti; (4). Dari batasan industri yang jelas menjadi tidak jelas; (5). Dari stabil menjadi tidak stabil; (6). Dari tidak langsung menjadi langsung; (7). Dari integrasi vertikal menjadi spesialis; (8). Dari berpengetahuan tunggal menjadi jamak. Setelah merubah cara pandang berkompetisi, pebisnis harus mampu merumuskan dan mengaplikasikan strategi karena hal itulah yang akan menjadi keunggulan kompetitif pada masa depan. Sementara, strategi yang baik itu bukan hanya perkara menjadi lebih baik dari sebelumnya (termasuk pengaplikasian gagasan manajemen mutakhir), melainkan juga harus menjadi berbeda dari pesaing.
Perubahan yang cepat telah menjadi ciri utama dari lingkungan dimana bisnis dijalankan saat ini, karena selain memerlukan “perubahan cara pandang berkompetisi” dan “perbedaan” sebagai senjata untuk memenangkan persaingan, tekanan untuk berubah juga datang dari berbagai penjuru, baik akibat kemajuan cepat pada teknologi informasi maupun adanya tuntutan dari kelompok stakeholders yang semakin meningkat. Selain itu, dunia bisnis dan organisasi lainnya telah terikat dalam perjanjian dan transaksi yang lebih kompleks, setiap organisasi menonjolkan keunggulan kompetitifnya (Competitive Advantages) masing-masing, manajemen resiko lebih sering diperbincangkan dan tindakan legal pun menjadi sesuatu yang mulai banyak dipertimbangkan dalam masyarakat. Berdasarkan akumulasi tantangan dan tuntutan yang dihadapi oleh organisasi bisnis inilah kemudian mendasari terbukanya pemikiran dan kesempatan untuk menerapkan dan mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR) pada organisasi bisnis.
Defenisi CSR sebenarnya sangat beragam, disatu sisi, beberapa pihak berpendapat bahwa CSR merupakan kewajiban perusahaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan agar perusahaan dapat diterima oleh lingkungan dimana perusahaan itu berada, yang mana jika CSR tidak dilakukan maka perusahaan patut mendapatkan sanksi (orientasi kewajiban). Di sisi lain, ada juga pihak yang berpendapat bahwa CSR merupakan aktivitas sukarela perusahaan, yang mana perusahaan dapat melakukannya ketika perusahaan mencatatkan keuntungan (laba), sehingga jika mengalami kerugian, CSR tidak menjadi kewajiban bagi perusahaan tersebut (orientasi keuntungan). Sedangkan pendapat lain, ada juga yang beranggapan bahwa semestinya CSR tersebut harus dijadikan kebutuhan bagi perusahaan, artinya penyelenggaraan aktivitas CSR merupakan strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai (value) bagi perusahaan, sehingga diperlakukan sama halnya ketika perusahaan melakukan kegiatan investasi atau penelitian dalam pengembangan organisasi, yaitu suatu kegiatan yang tidak secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan maupun keuntungan perusahaan, namun merupakan aktivitas fundamental dalam meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan yang mana dapat berujung pada peningkatan pendapatan atau keuntungan di masa yang akan datang (orientasi kebutuhan).
Atas perbedaan mendefenisikan CSR tersebut maka berdampak pada penyelenggaraan aktivitas CSR setiap perusahaan. Bagi perusahaan yang berorientasi pada kewajiban, akan menjadikan aktivitas CSR sebagai aktivitas tambahan yang tidak terkait dengan aktivitas inti perusahaan, di satu sisi perusahaan tersebut akan memberikan bantuan dana kepada masyarakat yang memiliki usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) disekitarnya sebagai bentuk pelaksanaan kewajibannya, namun disisi lain perusahaan tersebut melakukan aktivitas yang dapat mengurangi pendapatan atau menghambat perkembangan usaha-usaha tersebut, misalnya saja perusahaan menghasilkan produk yang sama dan harganya lebih rendah daripada harga yang diberikan oleh UMKM tersebut, tentunya hal ini akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan berdampak buruk bagi kelangsungan usaha UMKM tersebut, atau contoh lain, kalaupun melibatkan UMKM-UMKM tersebut sebagai penyedia bahan baku bagi perusahaan, namun perusahaan memberikan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasaran, maka hal ini juga tidak searah dengan maksud penyelenggaraan aktivitas CSR tersebut. Begitupula bagi perusahaan yang berorientasi pada keuntungan, dalam penyelenggaraan aktivitas CSR perusahaan tersebut tidak akan dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan value bagi stakeholders karena aktivitas CSRnya tidak dapat dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Kedua orientasi inilah yang mengakibatkan dalam prakteknya tidak semua perusahaan menerapkan CSR. Bagi sebagian perusahaan, CSR dianggap sebagai parasit yang dapat membebani biaya “capital maintenance”, sehingga kalaupun CSR dilakukan, itu hanya dilakukan untuk adu gengsi, sehingga tidak memberikan kontribusi positif secara jangka panjang kepada masyarakat.
Namun, jika mengacu pada ISO 26000 (Guidance Standard on Social Responsibility) yang menerjemahkan CSR sebagai tanggung jawab suatu organisasi atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan lingkungan, melalui perilaku transparan dan etis, yang konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; Memperhatikan kepentingan dari para stakeholders; sesuai hukum yang berlaku dan konsisten dengan norma-norma internasional; serta terintegrasi pada seluruh aktivitas organisasi, produk maupun jasa, maka dapat dikatakan bahwa jika perusahaan menginginkan aktivitas CSR dapat memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan perusahaan dan efektif bagi pengembangan masyarakat, konsumen, praktik kegiatan bisnis yang sehat, lingkungan, ketenagakerjaan, hak asasi manusia dan governance organisasi maka paradigma penyelenggaraan aktivitas CSR harus diselenggarakan berdasarkan orientasi kebutuhan.
Ketika aktivitas CSR dijadikan sebagai suatu kebutuhan oleh perusahaan maka dengan sendirinya nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas CSR tersebut akan terintegrasi pada seluruh aktivitas perusahaan, mulai dari aktivitas manajerial, aktivitas perencanaan dan pengembangan usaha, aktivitas peningkatan kapasitas sumber daya, aktivitas produksi dan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan atau dalam kata lain dapat meningkatkan value bagi perusahaan dan bagi para stakeholders, sehingga perusahaan dapat menyelenggarakan aktivitas CSR sebagaimana mestinya dan memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk itu, semestinya aksi “kemarahan” masyarakat atas keberadaan PT. International Nickel Indonesia (Inco Tbk) di Kabupaten Morowali dan “protes” warga atas keberadaan PT. Ina Touna Mining di Kabupeten Tojo Una-una, serta kasus-kasus “demo” masyarakat atas keberadaan Perusahaan di suatu daerah tidak perlu terjadi jika Perusahaan menyelenggarakan aktivitas CSRnya dengan berorientasi pada kebutuhan. Sedangkan jika dikaitkan dengan rencana pembentukan/keberadaan forum CSR di Kota Palu maka perlu disadari bahwa hal itu belum menjamin dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan di Kota Palu, karena sebagai fasilitator, forum CSR tersebut hanya dapat berfungsi dalam mengarahkan agar penyelenggaraan aktivitas CSR dapat mendukung pembiayaan program-program penanggulangan kemiskinan dan terlaksana secara terarah, adil dan merata di setiap wilayah, namun apakah hal itu akan efektif dalam menanggulangi masalah kemiskinan di Kota Palu? tergantung pada orientasi masing-masing perusahaan dalam menyelenggarakan aktivitas CSR.
(Dimuat pada Harian Radar Sulteng: Senin, 12 maret 2012 Hal. 4)

About these ads

0 Responses to “Efektifitas Aktivitas CSR Tergantung Orientasinya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


March 2012
M T W T F S S
« Jan   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: